JAKARTA – Di tengah dinamika berbangsa yang semakin kompleks, satu keluhan meluas menyusup ke setiap sendi kehidupan masyarakat: rasa sesak dan tergerusnya kemampuan ekonomi rakyat. Banyak kalangan meyakini, penderitaan ini bukan semata karena keadaan alam, melainkan akibat ulah tangan-tangan jahil para “perampok berjas” yang menjarah kekayaan negara.

Merespons keprihatinan nasional yang kian memuncak, Sekretaris Jenderal Global Press Network (GPN) Syamsuddin, ST.,CFLE.,CLA.,C.JI.,C.ILJ.,CPLA menyuarakan kemarahan sekaligus keprihatinan yang mendalam. Ia menegaskan perlunya langkah tegas tanpa kompromi untuk memutus mata rantai kemiskinan yang dipupuk oleh kemewahan hasil korupsi.

Rakyat Menjerit, Negara Dijarah

Kasus-kasus penggelembungan anggaran, mark-up proyek, hingga korupsi dana sosial merembet luas. Dampaknya tidak berhenti di angka kerugian negara, tetapi merembet ke dapur rakyat: harga kebutuhan melambung, layanan publik terabaikan, dan kesempatan tumbuh terkikis. Rakyat merasa seolah-olah dirampok secara sistematis oleh mereka yang memegang amanah kekuasaan.

“Kemiskinan di sekitar kita adalah bukti nyata bahwa harta publik dialihkan ke kantong pribadi pejabat-pejabat tidak bertanggung jawab,” ujar Sekjen GPN.

Fenomena “Maling Teriak Maling”: Ketakutan Menghukum

Yang lebih menyakitkan, menurut pantauan GPN, adalah budaya menutup-nutupi dan saling lindung antar-oknum. Alih-alih berani jujur, justru kerap terjadi pembalikan fakta—siapa yang benar justru disudutkan, sementara pelaku bersembunyi di balik teriakan fitnah.”kata Syamsuddin.

Penyakit ini membuat aparat penegak hukum kerap tampak ragu, takut, atau terhalang untuk menjatuhkan vonis setimpal. Akibatnya, kejahatan makin berani melanggar karena merasa dilindungi sistem yang tumpul.

Tuntutan Tegas: Hukum Mati Bagi Perampok Negara

Melihat krisis kepercayaan dan kerugian yang tak terbayar harganya bagi generasi bangsa, Syamsuddin, ST,. CFLE.,CLA.,C.JI.,C.ILJ.,CPLA Sekjen GPN menyuarakan pendapat keras yang mewakili kemarahan publik.

“Kita sudah lelah dengan sanksi yang terasa ringan dan tidak menyentuh mental. Sudah saatnya kita berani menerapkan hukuman mati bagi para koruptor besar yang merampok uang negara. Hukuman berat ini diperlukan sebagai efek jera yang nyata, agar tidak lagi ada yang berani mengulangi dosa besar yang membunuh masa depan bangsa ini,” desaknya.

Hingga Kapan Kita Bertahan?

Pertanyaan besar menggantung di udara: sampai kapan rakyat harus menanggung derita ini? Sekjen GPN mengajak seluruh elemen bangsa, mulai dari pers, masyarakat sipil, hingga penegak hukum, untuk bersatu membasmi budaya korupsi sampai ke akar-akarnya.

Jangan biarkan “maling teriak maling” menguasai panggung. Keadilan harus bangkit, keberanian menghukum harus dipulihkan, agar jeritan rakyat berubah menjadi kemenangan kebenaran.